Laporan : Adhi
Editor : Yogie Ps
Kabupaten Tangerang || detikindonesiasatu.com || 26 – Mei – 2026, — Persoalan sampah di Kabupaten Tangerang kembali menuai sorotan publik. Di tengah besarnya anggaran daerah dan gencarnya narasi pelayanan kebersihan, kondisi di lapangan justru memperlihatkan fakta yang memprihatinkan. Tumpukan sampah di wilayah Kecamatan Pasar Kemis dilaporkan tak kunjung diangkut meski keluhan warga telah berulang kali disampaikan.
Ironisnya, tumpukan sampah tersebut berada di kawasan permukiman yang setiap hari dilalui masyarakat. Sampah terlihat menggunung di sekitar bangunan dan akses jalan lingkungan, menimbulkan aroma menyengat serta menciptakan kesan kumuh yang dinilai mencederai wajah pelayanan publik Kabupaten Tangerang.
Kondisi itu memicu keprihatinan berbagai pihak. Pembina DPD Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWO-I) Kabupaten Tangerang, Ramliana Bangsa Shetra, bahkan turun langsung ke lokasi guna memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
Dari hasil pantauan, penanganan sampah dinilai belum berjalan maksimal. Volume sampah terus bertambah, sementara proses pengangkutan terkesan lamban dan tidak responsif terhadap keresahan masyarakat.
“Kami turun langsung agar persoalan ini tidak sekadar berhenti menjadi laporan administratif. Fakta di lapangan menunjukkan sampah masih menumpuk dan belum ditangani secara serius. Ini bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi menyangkut kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, serta kredibilitas pelayanan publik pemerintah daerah,” tegas Ramliana Bangsa Shetra.
Fenomena tersebut dinilai menjadi tamparan keras bagi tata kelola kebersihan daerah. Di tengah meningkatnya kebutuhan pelayanan lingkungan, masyarakat justru kembali dihadapkan pada persoalan klasik yang terus berulang tanpa penyelesaian konkret.
Padahal, Kabupaten Tangerang diketahui memiliki volume produksi sampah harian yang cukup tinggi. Pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) sebelumnya juga telah mengakui bahwa persoalan sampah membutuhkan armada, sistem distribusi, serta manajemen pengelolaan yang serius dan terukur.
Namun realitas di lapangan menunjukkan kondisi berbeda. Keluhan warga terus bermunculan, sampah tetap menumpuk, sementara respons penanganan dinilai belum mencerminkan kecepatan dan ketegasan pelayanan publik yang semestinya hadir di tengah masyarakat.
Warga sekitar mengaku khawatir apabila kondisi tersebut terus dibiarkan. Selain menimbulkan bau tidak sedap, tumpukan sampah juga berpotensi memicu penyakit dan pencemaran lingkungan, terlebih saat memasuki musim hujan yang rawan genangan serta berkembangnya bakteri maupun limbah berbahaya.
DPD IWO-I Kabupaten Tangerang menilai persoalan sampah tidak boleh dipandang sebagai isu rutin yang dianggap biasa. Ketika masyarakat sudah resah namun sampah tetap tidak diangkut, publik dinilai berhak mempertanyakan keseriusan dan efektivitas sistem pengelolaan kebersihan daerah.
“Kebersihan lingkungan jangan hanya menjadi slogan seremonial atau bahan pencitraan semata. Ketika masyarakat terus mengeluh namun kondisi tetap dibiarkan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kebersihan wilayah, tetapi juga kepercayaan publik terhadap pemerintah,” tambahnya.
Sebagai organisasi profesi pers yang menjalankan fungsi kontrol sosial, IWO-I Kabupaten Tangerang menegaskan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada tindakan nyata dari pihak terkait.
IWO-I juga meminta instansi berwenang tidak menutup mata terhadap kondisi yang terjadi di lapangan. Pengawasan, evaluasi sistem pengangkutan, serta respons cepat terhadap keluhan masyarakat dinilai menjadi langkah mendesak yang harus segera dilakukan sebelum persoalan semakin meluas.
Sebab pada akhirnya, pelayanan publik tidak diukur dari banyaknya program di atas kertas, melainkan dari sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara dalam menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan mereka.
Redaksi : detikindonesiasatu.com






